ok. jerawat.
Apaan sih hakikatnya jerawat? kalo buat saya sih AGAK menyebalkan..... dan 'teman' kecil yang datang tak dijemput, ilang tak di apa2kan *halaah, koq jadi pinjem taglinenya Mr.Jae* sepertinya koq ya setia sekali menemani saya selalu. Bahkan beranjak usia yang, kata kakak saya nih uda "early adolescene", dan dimana notabenenya tuh 'temen' ini harusnya pamit dari muka kulit saya..... yeah! keep on dreaming! karena ternyata doi masih suka ajah tuh nyaplok di muka.
Makin lama sih makin kebiasaan saya.Tidak juga serutin dulu nih temen dateng. Dulu, memasuki masa pubertas, wuuuuuiiiih! bisa2 panen jerawat tuh saya! kala ibu sih genetik, karena sebagian besar wanita dikeluarga juga gitu (baca:jerawatan).
Kalo sekarang sih saya liat positipnya aja (walo agak maksa dan gak rela siih) kulit saya memang tergolong berminyak, soooo gampang banget bakteri penyebab jerawat menyarangkan kotoran2 dan timbullah tuh namanya: JERAWAT! *iiidiiiiih, bahasa saya uda mirip iklan pembersih muka ye?*
Banyak jalan ke Roma.
Demikin pula banyak berbagai macam cara perawatan anti jerawat....*analoginya kena gak sih????*bodo ah* :p
But, like me......I NEVER learn.... hahahahaaa #sarcasm
Jerawat tuh gak bileh dipencet! Ntar bekas.... Lha,pikir saya kalo ndak dipencet, gak kluar dong tuh bakteri, gak sembuh dong? masak nunggu kempesnyaa???? Lamaaa..... trust me, it works! *halaah
Tapi saya teteup bandel.... abis dikasi obat (yah, sebandel2nya saya, saya juga masih sayang ma kulit kaleee), tuh jerawat mule kering2 dan berbentuk 'nasi' *maaf visualisasinya* katanya sih tanda2 kalo tuh jerawat dah mateng, yaaah saya pencet deh! ..... :)
*PUASSSSS
abis itu? mbekas? yaaaaaiyaaaalaaaah....... uda saya buktikan! hahaha... abis saya suka gatel ma 'gundukan' efek yang ditimbulkan oleh kedatangan tuh jerawat! yaaa, saya logikain aja sih, kalo mau keluar kan harus KELUAR which means, there's no other way but dipencet ajah! *dengan cara kekerasan, Bah!*
Abis puasss, ada juga perasaan nyesel sih, mikir: "duh, bekasnya..." tapi tenang sodara-sodara! kan banyak tuh krim-krim pemutih penghilang bekas jerawat dijual di pasaran???? ada yang dengan bahan aktif inilah, itulah, dengan partikel mineral apalah, begonolah.... banyak pilihan sih.
Itu yang menjadi pilihan saya....*kalo gak cocok, abaikan pesan ini! ini bukan TIPS atasi jerawat koq* :D
BTW, itu kali yah yang lagi crosssing my mind saat ini saat ngaca dan mengamati keindahan wajah saya... *plak #PDabis
kalo dibilang mulus, bersih, GAK BANGET!
Tapi saya selalu lebih memilih merawat wajah sendiri, sambil belajar tips-tips kecantikan, kadang2 sih juga mpe overwhelming saking banyaknya tips yang dibaca....
Kenapa gak leave it to expert aja??
Simply because, saya tak ada biayaa..... hiks! T___T
so far sih saya baek2 aja koq! ada up and down untuk kondisi 'kemulusan' wajah saya. Menjelang tamu bulanan, wuuiiih! panen. Kalo enggak, ya (sekarang) juga uda enggak tuh!
Masih seputar jerawat dan tetek bengeknya. Alasan sebenarnya kenapa saya nekat ambil laptop dan menari-narikan jari menulis ini juga gara-gara saya abis kedatangan teman ini. Satu aja, nangkring dengan enaknya di muka! DAMN! abis itu, seorang ......apa yah? teman juga gak akrab2 banget, kenalan deh, yang kebetulan teman dari temannya kakak, pas lagi bareng2 jalan, jokingly said to me: "kamu koq banyak jerawatnya siiih???"
I swear, it's like....JEEGEEERR! GLOOODAK, GUUUBRAKKK....
:(
Agak tersinggung dan sedih juga sih kala itu dengan fakta yang dikatakan si....sebut aja namanya 'Lea'... ooops!
In my defenses, aq bilang kalo saat itu aq lagi 'dapet'... *emang bener koq!*koq jadi ngotot sendiri?*
Emang sisa-sisa bekas jerawat saya terdahulu masih banyak sih menghiasi pipi saya, PLUS jerawat baru yang udah hakikatnya mampir saat bulanan. CRAAP!
Yang lebih me-jlebb-jlebb-kan saya lagi saat si Lea mengutarakan 'teori'nya kenapa saya 9atau orang lainnya) berjerawat. Katanya nih, itu karena saya memendam....
Ambigu?
Emang begitu kata dia, MEMENDAM. Memendam apaan? Dia bilang sih more to asrat or keinginan. "lhaa, kamu hasrat pengen punya cocok yaah??"
ZZZZZZ...............*penulis sedang menampar diri sendiri*
Saat itu saya in denial, GAK GAK dan GAK! I'm perfectly fine!....minus the fact that i have that one particular zit! Lagian.... apakah teorinya si Lea itu valid? uda adakah penelitian secara akademis kalo jerawat tuh ada hubungannya sama memendam-mendam??? *ngotot*
Saya kan memang berkulit berminyak yang notabenenya lebih gampang jerawatan daripada orang kulit kering (tapi anti keriput lhoo! *teteup gak mau kalah!*). Sooo, saya gak terima tuh teori Lea..............padahal memang kondisi saat ini saya single and boyfriendless....#tepokjidat
CRAP!
Sooo, it that mean that it's true?
Apa iya saya memendam hasrat? *konotasinya positip yak?*
Terus, kalopun iya, kan gak ada salahnya tuh kita punya keinginan untuk punya seseorang yang sayang ma kita dan menyayangi kita...*lho
Mungkin memang kita butuh a perfect stranger to really sees us. Contohnya saya, si Lea dan si jerawat. Siapa sangka perbincangan gak penting dan pertemuan tak disengaja dari mutual friends bisa membuat si Lea "perfect stranger" itu bisa menilai saya.....
Am I that obvious?
DAMN YOU JERAWAAAAT....... >,<
Padahal saya biasanya hebat lho dalam menilai diri saya....*hal ini sudah diakui orang lain*
Entahlah.
Hey, jerawat! please be nice to me???...
*masih didepan kaca*elus-elus jerawat*
#pasrah
Aapapun arti sebab musabab *halaah!* kau hadir dalam hidupku, aku terima kau apapun alasannya....(tapi jangan lama2, betah nongkrong di muka saya juga yeee...)
*buat si jerawat membandel, basmi saja dengan Combantrin!*
Life. (not) Love. and everything in between..... just me and my silly thoughts!
Showing posts with label sahabat. Show all posts
Showing posts with label sahabat. Show all posts
Monday, August 8, 2011
Thursday, August 4, 2011
Sebuah catatan absurd (kisah Nia di Bengkulu)
Persahabatan.
Indah.
Saya selalu mengingat semua pertemuan dengan seseorang yang nantinya saya panggil teman, sahabat… walau mungkin tidak terlihat, saya selalu menganggap setiap persinggungan kehidupan saya dengan orang-orang tersebut indah dan berkesan.
Banyak hal terlewati, seuka dan duka. Hal-hal kecil nun tidak penting yang akan selalu mengisi kehidupan saya ke depan nantinya. Mereka yang menyentuh saya, meninggalkan kesan, sekecil dan se-insignificat itupun saya tahu, sekarang telah membentuk saya yang sekarang, baik dan buruk.
Ada sebuah catatan dalam lembaran-lembaran kehidupan persahabatan saya. Saat saya masih si bangku SD, masih ingusan dan polos….(hahaha, penting yaah?) saya mengenal seorang gadis, sebut saja namanya Nia. Sekarang agak buram kalau saya mencoba mengingat-ingat bagaimana tepatnya kami berkenalan lantas mulai menjalin hubungan. Yang jelas, dia salah satu sahabat saya kala SD. Yang ingin saya bagi, adalah fakta bahwa saya tadinya pernah sebegitu benci(?)nya dengan dia. Kami pernah bertengkar, sungguh sangat hebat bin hebohnya di sekolah…. *senyum-senyum sendiri*
Lucu kala ini kalau saya mengingatnya. Saya ceritakan dulu background cerita ini deh. Saya berdomisili di kota Bengkulu kala itu, mengikuti ayahanda bertugas bersama keluarga kecil saya. Sekarang, looking back, I would definitely say that those times were the BEST time of my life. Life, is just so plain simple. Anyway, saya bersekolah di sekolah swasta terbaik di kota ini *please note kota Brengkulu in the mid 90’s. it was a great small town*. Mungkin karena faktor usia, kala itu mudah sekali bagi saya menjalin hubungan dan punya teman baru. Sebelumnya saya berdomisili di Surabayu…*kisah lengkapnya kapan-kapan deh*.
Nah! Sekolah saya ini benar-benar indah! (fakta dan bukan lebay yah?) Tiap kelas punya jendela yang terbuka lebar hampir setengah dari tembok, tanpa teralis. Model kelas-kelasnya juga mengelilingi taman/lapangan sekolah ditengah-tengah, dimana ujungnya ada aula, persis letter O. entah mengapa, sejak saat itu saya selalu membandingkan sekolah-sekolah saya selanjutnya dengan ini….hehehe. Karena bagi saya suasananya enak dan damai. Plus! Sekolah kami dekat dengan pantai (Yey!!). jadi, saat itu saya kelas 3 atau 4 SD, awalnya saya kurang ingat, apakah sebelumnya kami, saya dan Nia pernah berteman akrab. Memorinya agak absurd dan vague. Tapi saya ingat kami pernah bertengkar heboh! Saya diseberang lapangan, dia di seberang lapangan yang lain. Kami saling teriak, entah apa yaa? Lalu, bagian ini saya ingat banget, dia berlari keseberang dan menjambak rambut saya melalui jendela kelas (ingat kan kalo jendelanya besar?). Bayangkan! Sakiiiit bo’……Udah dijambak, badan saya natap (membentur) dinding tembok pula. Reaksi saya kala itu membalas juga, ya lewat jendela juga saya jambak dia….. aneh,bukan?....
Please jangan tanya perkara apa yang bikin kami jambak-jambakan…cos honestly saya udah lupa, bahkan saya yakin apapun alasannya, itu pasti alasan bodoh dan gak penting banget (harap maklum, anak SD!). Soo, hal itu cukup heboh dan menyita perhatian publik. Tapi, seingat memori saya sekarang, kedepannya justru kami menjadi akrab dan tak terpisahkan. Yaa, kami bersahabat. Nia menjadi sahabat saya. Dan saya sahabatnya. Hidup ini indah. :)
Ada perjumpaan, maka ada pula perpisahan, kecuali anda punya prinsip “Aloha”….. (hahaha, kapan-kapan juga deh saya ceritakan). Saat kepergian saya, yaa saya yang meninggalkannya. Karena dia tidak kemana-mana, tapi saya yang berpindah tempat. Kala berpamitan, dialah yang menangisnya paling kencang dan yang memeluk saya paling erat. Saya berpamitan di muka kelas, formally, karena wali kelas (Bu Yuli, terima kasih!) meminta. Entah itu tradisi atau bukan, dan saya juga merasa bukanlah siswa berprestasi (ok, saya akui saya memiliki intelegensi yang biasa-biasa saja), bukan siswa popular (bukan outcast juga), tidak significantlah! Tapi seisi kelas sedih akan kepergian saya. Benar. Saya bicara jujur. Saat pindah saya duduk di kelas 6, agak sulit juga pindah mendekati ujian nasional kala itu, tapi apa boleh maut, pekerjaan ayahanda memaksa, saya turut pula.
Disitu. Namun, belum berakhir kisah persahabatan kami. Guru saya, Bu Yuli meminta teman-teman sekelas untuk menulis surat pada saya dan tetap saling berkorespondensi (tak segampang sekarang kan? Tinggal tuker-tukeran nomor HP). Dan benar, selama kurang lebih 1 bulan sejak kepindahan saya ke Palembang, kami maasih saling berhubungan. Lalu tidak. Kami hilang, saling bertumbuh dewasa, dengan kesibukan masing-masing, tanpa ada lagi saling komunikasi.
Namun, ada torehan yang tertinggal dari Nia dalam hidup saya. Hingga sekarang, kami saling menemukan lagi, teknologi membantu kami. Kami masih saling bertukar kabar.
Apa sih pentingnya kisah ini?? Bagi kamu, mungkin tak banyak. Bagi saya, PRICELESS….. ada lesson learned yang sekarang bisa saya lihat, saya bagi buat kamu. Dalam hubungan kita dengan orang lain, saya menyimpulkan, ada siklusnya.
Bukan siklus pertemuan hingga perpisahan lho ya! Bagi saya itu fakta yang semua orang bisa simpulkan. Tidak. Siklus itu yang saya temukan sifatnya tak mengikat dan dapat berbeda urutannya bagi tiap orang dan tiap hubungan (implementasikan dalam hubungan persahabatan atau percintaan bisa). Dan ini yang saya dapatkan:
Saat belum saling mengenal, kami orang asing.(strangers)
Saat berkenalan, kami menjadi kenalan.(acquaintances)
Saat makin dekat, kami menjadi teman.(friend)
Saat kami saling berbagi, kami menjadi sahabat.(best friend)
Saat saling salah paham, kami menjadi musuh.(enemies)
Saat saling saying, kami menjadi kekasih.(lovers)
Saat berpisah, kami kembali menjadi orang asing. Tapi tidak bagi kami satu dan lain.
Tidak selalu hubungan yang dibangun dari benci, pertengkaran, perselisihan berakhir buruk lho! Take my example. Akhirnya saya dan Nia menjadi sahabat, bukan lancer juga sih, tapi kami tak pernah clash lagi. Ada mutual understanding (mungkin karena kami sudah melihat kejelekan masing-masing di awal) yang menjadi senjata kami dalam persahabatan. Kalau kebalikannya? Bisa…. Bisa juga tidak. Saat ini, saya pilih ‘model’ persahabatan saya dengan Nia aja deh! *sghs*
Tak ada jaminan.
Semua terserah pelakunya….
Lain kesempatan saya ceritakan hubungan saya yang lainnya, yang sesuai siklus buatan saya itu…… di kota Jembatan Ampera, Palembang…. Dan memori apa yang saya dapatkan kala itu.
Indah.
Saya selalu mengingat semua pertemuan dengan seseorang yang nantinya saya panggil teman, sahabat… walau mungkin tidak terlihat, saya selalu menganggap setiap persinggungan kehidupan saya dengan orang-orang tersebut indah dan berkesan.
Banyak hal terlewati, seuka dan duka. Hal-hal kecil nun tidak penting yang akan selalu mengisi kehidupan saya ke depan nantinya. Mereka yang menyentuh saya, meninggalkan kesan, sekecil dan se-insignificat itupun saya tahu, sekarang telah membentuk saya yang sekarang, baik dan buruk.
Ada sebuah catatan dalam lembaran-lembaran kehidupan persahabatan saya. Saat saya masih si bangku SD, masih ingusan dan polos….(hahaha, penting yaah?) saya mengenal seorang gadis, sebut saja namanya Nia. Sekarang agak buram kalau saya mencoba mengingat-ingat bagaimana tepatnya kami berkenalan lantas mulai menjalin hubungan. Yang jelas, dia salah satu sahabat saya kala SD. Yang ingin saya bagi, adalah fakta bahwa saya tadinya pernah sebegitu benci(?)nya dengan dia. Kami pernah bertengkar, sungguh sangat hebat bin hebohnya di sekolah…. *senyum-senyum sendiri*
Lucu kala ini kalau saya mengingatnya. Saya ceritakan dulu background cerita ini deh. Saya berdomisili di kota Bengkulu kala itu, mengikuti ayahanda bertugas bersama keluarga kecil saya. Sekarang, looking back, I would definitely say that those times were the BEST time of my life. Life, is just so plain simple. Anyway, saya bersekolah di sekolah swasta terbaik di kota ini *please note kota Brengkulu in the mid 90’s. it was a great small town*. Mungkin karena faktor usia, kala itu mudah sekali bagi saya menjalin hubungan dan punya teman baru. Sebelumnya saya berdomisili di Surabayu…*kisah lengkapnya kapan-kapan deh*.
Nah! Sekolah saya ini benar-benar indah! (fakta dan bukan lebay yah?) Tiap kelas punya jendela yang terbuka lebar hampir setengah dari tembok, tanpa teralis. Model kelas-kelasnya juga mengelilingi taman/lapangan sekolah ditengah-tengah, dimana ujungnya ada aula, persis letter O. entah mengapa, sejak saat itu saya selalu membandingkan sekolah-sekolah saya selanjutnya dengan ini….hehehe. Karena bagi saya suasananya enak dan damai. Plus! Sekolah kami dekat dengan pantai (Yey!!). jadi, saat itu saya kelas 3 atau 4 SD, awalnya saya kurang ingat, apakah sebelumnya kami, saya dan Nia pernah berteman akrab. Memorinya agak absurd dan vague. Tapi saya ingat kami pernah bertengkar heboh! Saya diseberang lapangan, dia di seberang lapangan yang lain. Kami saling teriak, entah apa yaa? Lalu, bagian ini saya ingat banget, dia berlari keseberang dan menjambak rambut saya melalui jendela kelas (ingat kan kalo jendelanya besar?). Bayangkan! Sakiiiit bo’……Udah dijambak, badan saya natap (membentur) dinding tembok pula. Reaksi saya kala itu membalas juga, ya lewat jendela juga saya jambak dia….. aneh,bukan?....
Please jangan tanya perkara apa yang bikin kami jambak-jambakan…cos honestly saya udah lupa, bahkan saya yakin apapun alasannya, itu pasti alasan bodoh dan gak penting banget (harap maklum, anak SD!). Soo, hal itu cukup heboh dan menyita perhatian publik. Tapi, seingat memori saya sekarang, kedepannya justru kami menjadi akrab dan tak terpisahkan. Yaa, kami bersahabat. Nia menjadi sahabat saya. Dan saya sahabatnya. Hidup ini indah. :)
Ada perjumpaan, maka ada pula perpisahan, kecuali anda punya prinsip “Aloha”….. (hahaha, kapan-kapan juga deh saya ceritakan). Saat kepergian saya, yaa saya yang meninggalkannya. Karena dia tidak kemana-mana, tapi saya yang berpindah tempat. Kala berpamitan, dialah yang menangisnya paling kencang dan yang memeluk saya paling erat. Saya berpamitan di muka kelas, formally, karena wali kelas (Bu Yuli, terima kasih!) meminta. Entah itu tradisi atau bukan, dan saya juga merasa bukanlah siswa berprestasi (ok, saya akui saya memiliki intelegensi yang biasa-biasa saja), bukan siswa popular (bukan outcast juga), tidak significantlah! Tapi seisi kelas sedih akan kepergian saya. Benar. Saya bicara jujur. Saat pindah saya duduk di kelas 6, agak sulit juga pindah mendekati ujian nasional kala itu, tapi apa boleh maut, pekerjaan ayahanda memaksa, saya turut pula.
Disitu. Namun, belum berakhir kisah persahabatan kami. Guru saya, Bu Yuli meminta teman-teman sekelas untuk menulis surat pada saya dan tetap saling berkorespondensi (tak segampang sekarang kan? Tinggal tuker-tukeran nomor HP). Dan benar, selama kurang lebih 1 bulan sejak kepindahan saya ke Palembang, kami maasih saling berhubungan. Lalu tidak. Kami hilang, saling bertumbuh dewasa, dengan kesibukan masing-masing, tanpa ada lagi saling komunikasi.
Namun, ada torehan yang tertinggal dari Nia dalam hidup saya. Hingga sekarang, kami saling menemukan lagi, teknologi membantu kami. Kami masih saling bertukar kabar.
Apa sih pentingnya kisah ini?? Bagi kamu, mungkin tak banyak. Bagi saya, PRICELESS….. ada lesson learned yang sekarang bisa saya lihat, saya bagi buat kamu. Dalam hubungan kita dengan orang lain, saya menyimpulkan, ada siklusnya.
Bukan siklus pertemuan hingga perpisahan lho ya! Bagi saya itu fakta yang semua orang bisa simpulkan. Tidak. Siklus itu yang saya temukan sifatnya tak mengikat dan dapat berbeda urutannya bagi tiap orang dan tiap hubungan (implementasikan dalam hubungan persahabatan atau percintaan bisa). Dan ini yang saya dapatkan:
Saat belum saling mengenal, kami orang asing.(strangers)
Saat berkenalan, kami menjadi kenalan.(acquaintances)
Saat makin dekat, kami menjadi teman.(friend)
Saat kami saling berbagi, kami menjadi sahabat.(best friend)
Saat saling salah paham, kami menjadi musuh.(enemies)
Saat saling saying, kami menjadi kekasih.(lovers)
Saat berpisah, kami kembali menjadi orang asing. Tapi tidak bagi kami satu dan lain.
Tidak selalu hubungan yang dibangun dari benci, pertengkaran, perselisihan berakhir buruk lho! Take my example. Akhirnya saya dan Nia menjadi sahabat, bukan lancer juga sih, tapi kami tak pernah clash lagi. Ada mutual understanding (mungkin karena kami sudah melihat kejelekan masing-masing di awal) yang menjadi senjata kami dalam persahabatan. Kalau kebalikannya? Bisa…. Bisa juga tidak. Saat ini, saya pilih ‘model’ persahabatan saya dengan Nia aja deh! *sghs*
Tak ada jaminan.
Semua terserah pelakunya….
Lain kesempatan saya ceritakan hubungan saya yang lainnya, yang sesuai siklus buatan saya itu…… di kota Jembatan Ampera, Palembang…. Dan memori apa yang saya dapatkan kala itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)